← Blog TikTok Commerce Mei 22, 2026 6 min read

Riset Produk TikTok Shop: Cara Temukan Produk Laris Sebelum Kompetitor

Kesalahan paling mahal yang sering saya lihat dari seller baru TikTok Shop adalah langsung listing produk tanpa melakukan riset produk TikTok Shop sama sekali. Mereka pilih produk berdasarkan feeling, atau ikut-ikutan apa yang sedang trending di FYP. Hasilnya? Stok numpuk, iklan tidak balik modal, dan toko tutup dalam tiga bulan.

Riset produk bukan soal menemukan produk yang sedang viral. Riset produk yang benar artinya menemukan produk dengan demand yang nyata, margin yang masuk akal, dan persaingan yang masih bisa ditembus. Artikel ini menjelaskan cara saya melakukan riset produk TikTok Shop secara sistematis, dari awal sampai keputusan beli stok.

Kenapa Riset Produk TikTok Shop Berbeda dari Marketplace Lain

Di Tokopedia atau Shopee, pembeli datang karena niat beli yang sudah ada. Mereka search produk yang mereka butuhkan. Di TikTok Shop, sebagian besar transaksi terjadi karena pembeli melihat konten dulu, baru memutuskan beli. Ini yang disebut discovery commerce.

Artinya, produk yang laku di TikTok Shop belum tentu laku di marketplace lain, dan sebaliknya. Produk yang bekerja baik di TikTok biasanya punya beberapa karakteristik: ada elemen visual yang menarik dan mudah ditampilkan dalam video pendek, ada problem yang bisa dijelaskan dalam 15 sampai 30 detik, harganya cukup impulsif untuk keputusan beli spontan, dan ada unsur transformasi atau hasil yang terlihat jelas di layar kecil.

Kalau produk yang kamu pertimbangkan tidak punya setidaknya dua dari empat karakteristik ini, peluang berhasilnya di TikTok Shop jauh lebih kecil, tidak peduli seberapa laris produk itu di Shopee.

Cara Riset Produk TikTok Shop dengan TikTok Creative Center

Langkah pertama saya selalu ke TikTok Creative Center. Ini tools gratis dari TikTok yang menampilkan data produk terlaris berdasarkan negara dan kategori.

Masuk ke ads.tiktok.com, pilih menu Creative Center, lalu pilih Top Products. Filter ke Indonesia, pilih rentang waktu 7 atau 30 hari terakhir. Dari sini saya bisa lihat produk apa yang sedang banyak diorder, berapa rata-rata harganya, dan berapa jumlah video yang membahas produk tersebut.

Yang saya perhatikan bukan hanya jumlah penjualan, tapi rasio antara jumlah video dan jumlah penjualan. Kalau ada produk dengan 50 video tapi 10.000 order, itu sinyal kuat. Artinya setiap video rata-rata menghasilkan 200 order. Bandingkan dengan produk lain yang punya 500 video tapi hanya 8.000 order. Produk pertama jauh lebih efisien secara konten.

Buat shortlist 5 sampai 10 kandidat dari sini. Jangan langsung pilih satu. Baru di langkah berikutnya kamu akan eliminasi yang tidak layak.

Validasi Kompetitor dan Margin Sebelum Commit Stok

Setelah punya kandidat dari TikTok Creative Center, saya tidak langsung beli stok. Ada dua langkah validasi dulu.

Pertama, cek kompetitor di TikTok Shop langsung. Search produk tersebut, sortir berdasarkan Terlaris. Lihat berapa seller yang jual, berapa harga terendah, dan baca review pembeli. Kalau sudah ada lebih dari 200 seller dengan harga yang sangat tertekan, saya skip. Terlambat masuk, dan saya akan bersaing di harga bukan di konten.

Kedua, hitung margin dulu sebelum apapun. Saya pakai rumus sederhana: harga jual dikurangi HPP, dikurangi biaya pengiriman, dikurangi komisi TikTok Shop yang berkisar antara 1 sampai 8 persen tergantung kategori, dikurangi estimasi biaya iklan. Kalau margin bersih di bawah 15 persen, produk itu tidak menarik untuk saya kejar kecuali volumenya sangat besar dan perputaran stoknya cepat.

Cara Estimasi Biaya Iklan untuk Produk Baru

Banyak seller yang lupa memasukkan biaya iklan dalam kalkulasi margin. Saya biasanya asumsikan biaya iklan sekitar 10 sampai 15 persen dari harga jual untuk produk baru. Angka ini akan turun seiring waktu kalau konten organik mulai jalan, tapi untuk perencanaan awal, selalu hitung dengan skenario terburuk. Lebih baik kecewa dengan perhitungan yang konservatif daripada terkejut dengan kerugian nyata.

Identifikasi Timing: Produk yang Naik vs Produk yang Sudah di Puncak

Ada perbedaan besar antara produk yang sedang naik dan produk yang sudah di puncak popularitasnya. Kalau saya masuk saat produk sudah di puncak, saya akan bersaing dengan ratusan seller yang lebih dulu masuk dan sudah punya review lebih banyak. Peluang menang sangat kecil.

Cara saya mengidentifikasi produk yang masih dalam fase naik: search hashtag terkait di TikTok, urutkan berdasarkan waktu upload terbaru, bukan terpopuler. Kalau dalam 3 hari terakhir jumlah video meningkat signifikan tapi belum ada seller yang dominan di TikTok Shop, itu timing yang bagus untuk masuk.

Saya juga pantau grup Facebook seller Indonesia dan channel Telegram niaga. Seringkali produk yang baru mulai viral di komunitas ini masih punya jendela 1 sampai 2 minggu sebelum market jenuh dan harga mulai tertekan.

Riset Produk TikTok Shop Lewat Analisis Konten Kreator Affiliate

Cara lain yang efektif adalah melihat konten dari kreator affiliate aktif. Cari kreator dengan 50.000 sampai 500.000 followers di TikTok yang rutin mereview produk. Lihat produk apa yang mereka bahas dalam 2 minggu terakhir dan berapa views yang mereka dapat per video.

Kreator di ukuran ini biasanya memilih produk berdasarkan potensi komisi dan konversi. Kalau saya lihat beberapa kreator berbeda mereview produk yang sama dalam seminggu dan viewsnya tinggi, itu sinyal demand yang kuat dari sisi konten.

Dari analisis ini saya juga bisa tahu angle konten apa yang berhasil untuk produk tersebut, yang berguna saat saya membuat brief ke kreator affiliate saya sendiri nanti.

Proses Riset sampai Keputusan: Berapa Lama?

Untuk satu produk baru, saya butuh 2 sampai 3 hari riset sebelum memutuskan masuk atau tidak. Hari pertama untuk identifikasi kandidat dari TikTok Creative Center dan buat shortlist. Hari kedua untuk validasi kompetitor dan hitung margin, eliminasi yang tidak layak. Hari ketiga untuk cek timing dan analisis konten affiliate, lalu pilih 1 atau 2 produk yang akan ditest.

Saya tidak pernah langsung beli stok dalam jumlah besar untuk produk baru. Untuk test pertama, saya order 20 sampai 50 unit. Kalau dalam 2 minggu terjual lebih dari setengahnya dengan margin yang sesuai target, baru saya tambah stok lebih besar. Pendekatan ini memang memperlambat scaling, tapi jauh lebih aman daripada stuck dengan 500 unit produk yang tidak laku.

Tanda Produk yang Sebaiknya Dilewati

Dari pengalaman, ada beberapa tanda produk yang lebih baik dihindari meskipun angkanya terlihat menarik di permukaan. Produk dengan review negatif konsisten soal kualitas adalah tanda bahaya pertama. Produk yang sudah ada versi tiruan murah langsung dari China juga sulit bersaing dalam jangka panjang karena harga akan terus tertekan.

Produk dengan regulasi tidak jelas, terutama suplemen, kosmetik, dan makanan tanpa izin BPOM yang valid, adalah risiko bisnis yang tidak sebanding dengan potensi keuntungannya. Dan produk yang laku hanya karena satu kreator viral yang kini sudah tidak aktif membahas produk itu adalah tanda demand yang sudah berakhir.

Riset produk TikTok Shop yang baik bukan soal menemukan produk yang sempurna. Ini soal menemukan produk dengan probabilitas berhasil yang cukup tinggi untuk masuk akal ditest dengan modal kecil. Sisanya tergantung eksekusi: kualitas konten, ketepatan harga, dan kecepatan servis ke pembeli.

Andrey Garcia
Andrey Garcia
Head of Business Development, Ginee Hub · TikTok Indonesia Certified Trainer

5+ years membangun operasional dan tim komersial di ekosistem digital commerce Indonesia. Saya menulis tentang apa yang benar-benar bekerja, berdasarkan pengalaman mengelola 60+ akun merchant.